Waspada Narasi Radikal, KH. Ahmad Syuk Rillah Ingatkan Pemuda Bahaya Provokasi

Bandung, ditengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap maraknya aksi unjuk rasa terkait issu reformasi 98 jilid 2, serta munculnya kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan untuk menggulingkan pemerintahan saat ini, Pemilik Pondok Pesantren Bina Ummah, KH. Ahmad Syuk Rillah, angkat suara.

Dalam sebuah pertemuan terbuka yang digelar di lingkungan pesantren pada Kamis, 25 Juni 2026, KH. Ahmad Syuk Rillah dengan tegas menyatakan penolakannya terhadap segala bentuk aksi demonstrasi yang menganggkat issu reformasi 98 jilid 2 serta unjuk rasa hang berujung pada kekerasan, perusakan fasilitas umum, serta tindakan provokatif yang meresahkan masyarakat.

“Unjuk rasa yang menyerukan reformasi 98 jilid 2 adalah bentuk penyimpangan. Mereka tidak membawa solusi, justru menanamkan benih kekacauan. Tindakan mereka tidak bisa dibenarkan dalam sudut pandang hukum, agama, maupun budaya,” tegasnya.

Menurutnya, Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam) tidak pernah membenarkan kekerasan sebagai jalan untuk menyelesaikan masalah. Ia menekankan pentingnya dialog, musyawarah, dan edukasi dalam menyampaikan pendapat serta memperjuangkan keadilan.

Pesan untuk Generasi Muda dan Para Santri

KH. Ahmad Syuk Rillah juga mengimbau para santri dan pemuda untuk tidak mudah terprovokasi oleh ajakan atau narasi-narasi menyerukan reformasi 98 jilid 2 yang disebarkan melalui media sosial maupun jaringan bawah tanah yang kerap dimanfaatkan oleh kelompok radikal dan anarkis.

“Santri dan pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Jangan sekali-kali kita terjebak dalam gerakan yang menjanjikan perubahan, tapi melalui jalan kekerasan. Itu bukan jalan yang diajarkan Rasulullah, bukan pula jalan para ulama kita terdahulu,” pesannya.

KH. Ahmad Syuk Rillah menutup pernyataannya dengan ajakan kepada seluruh elemen bangsa untuk terus menjaga persatuan kesatuan dan mendukung Pemerintah dalam setiap kebijakannya, serta menolak segala bentuk paham dan seruan yang bertentangan dengan nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

“Negara ini milik kita bersama. Mari kita rawat dengan cinta, bukan dengan kebencian. Kita jaga dengan doa dan ilmu, bukan dengan batu dan api. Santri harus berada di barisan terdepan dalam menjaga kedamaian dan keutuhan bangsa,” pungkasnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *