GARDAHUKUM.COM-
Kediri, 25 Maret 2026 — Di tengah gempuran budaya modern, satu hal masih berdiri tegak di Kota Kediri kesenian jaranan.
Hal itu terlihat jelas dalam acara Halal Bihalal 20 Tahun Wahyu Krida Budaya yang digelar di WSG (Warung Setono Goerih), Pakelan, Kota Kediri.
Acara ini bukan sekadar silaturahmi biasa. Ini adalah bukti nyata bahwa jaranan masih hidup, guyub, dan punya tempat di hati masyarakat.
20 Tahun Bukan Waktu Singkat
Selama kurang lebih dua dekade, Wahyu Krida Budaya telah menjadi bagian dari denyut seni tradisional Kediri.
Bertahan selama 20 tahun bukan hal mudah—namun komunitas ini justru semakin solid.
Dalam acara tersebut, hadir berbagai elemen penting,
Koordinator kecamatan (Korcam) dari Kediri Barat, Timur, dan Tengah
Tokoh seni dan budaya
Dewan Kesenian daerah
Ketua Rumah Budaya, Bu Rindu Rika
Pendiri Dewan Kesenian Jaranan Kota Kediri, M. Hanif, Biro Hukum Agung serta para pengurus dan pelaku seni lainnya
Kehadiran mereka menegaskan satu hal, “Jaranan bukan sekadar tontonan, tapi identitas.
Lebih dari Sekadar Seni, Ini Soal Marwah Budaya, “Jaranan bukan hanya pertunjukan. Di dalamnya ada
nilai sejarah.
Spirit kebersamaan Warisan leluhur Jawa,”Acara ini menjadi pengingat kuat bahwasanya, Seni budaya jaranan adalah ikon budaya Jawa yang harus dijunjung tinggi marwahnya.”
Di tengah perubahan zaman, komitmen seperti ini jadi sangat penting agar generasi muda tidak kehilangan akar budaya mereka sendiri.
Pesan Tersirat, Budaya Harus Dijaga, Bukan Sekadar Dirayakan
Momentum Halal Bihalal ini bukan hanya nostalgia, tapi juga peringatan halus, Kalau tidak dijaga bersama, budaya bisa hilang
Kalau tidak dirawat, generasi berikutnya hanya akan mengenal dari cerita
Wahyu Krida Budaya justru membuktikan sebaliknya budaya bisa tetap hidup—asal ada kebersamaan dan kepedulian.
Tim red





